beberapa hari yl saya dibilang 'bolot' oleh adek ketika saya tak segera menyahut ketika diajak bicara..
"bolot itu apa nak?", tanya saya sedikit terkejut.
"itu lho, yang kalo diajak ngomong pura2 gak denger", jawab adek.
"adek tahu darimana?", tanya saya sambil menahan tawa.
"ya dari mbak sari laaah...", jawab adek. mbak sari itu mbak yang yang membantu saya mengurus rumah dan menjaga anak2.
diwaktu yang lain,
"mami ini telinganya ketinggalan di dapur ya? atau di kamar mandi?", begitu saya di 'hardik' oleh anak saya. saya akui, tanpa bermaksud mengabaikan, kadang2 saya memang agak lambat merespon panggilan atau ajakan bicara anak2. mungkin sedang ada urusan yang tak dapat di tinggalkan, sedang menerima telpon, atau memang saya tak mendengar suara mereka.
__________________
saya hanya bisa tersenyum2. tentu saja senyum kecut. ternyata tidak semua proses tumbuh kembang anak2 mampu saya kontrol. padahal saya mengklaim diri saya "full time mom"....
saya tak bermaksud menyalahkan si mbak. atau bahkan menyalahkan diri saya sendiri. karena sejatinya, meski saya full time mom, saya tetap manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan keterbatasan. tak sepanjang hari saya bisa memelihara 'mood'.
tak sepanjang waktu pula saya bisa mendampingi anak2 'mengeksplorasi dunia'.
ada saat dimana saya harus belanja ke warung atau ke pasar. saat dimana saya harus keluar untuk beberapa keperluan. saat dimana saya lelah dan pengen tidur dikala anak2 terjaga. saat dimana saya pengen nonton TV sendiri di dalam kamar. saat dimana saya duduk di depan komputer untuk suatu pekerjaan. saat dimana saya pengen buka internet, posting blog atau fesbukan. bahkan saat dimana saya harus menjadi istri yang wajib "berkhidmad" pada suaminya....
lepas dari persoalan pribadi saya, saya juga yakin semakin anak2 besar, semakin mereka membutuhkan ruang privat. ruang dimana mereka bisa leluasa mengekspresikan seluruh materi yang ada dalam alam pikirnya. kadang2 saya mesti membiarkan anak2 membongkar seluruh isi boks mainannya, lalu meratakannya keseluruh pojok ruang. membiarkan anak2 mengambil banyak2 kertas HVS saya, menggambar, lalu menggunting2nya. membiarkan anak2 membaca dikolong meja, dan sebagainya...
diatas segalanya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang sempurna....
bahkan keinginan dan tekad untuk menjadi sempurnapun tak lantas menjadikan kita benar2 sempurna...
karena sesungguhnya, kesempurnaan hanya milik Allah.....
19 Mei 2009
13 Mei 2009
Terasa Lebih Indah
tinggal sendiri di lampung hanya dengan anak2, sementara suami kerja di jakarta. kalau di tanya mau ga mau, ya siapa yang mau? sedih eueyyy.... apalagi jika tiba2 secara mendadak ada kabar kalau hari sabtu atau minggu ada acara. so, jadwal pulang ke lampungnya mundur deeechhhh....
"mengambil hikmah atas segala peristiwa", hmmmm... benar juga!! daripada bermuram durja, menghitung hari yang justru semakin dihitung semakin terasa lamban.
Hikmahnya?
"semakin lama berpisah, pertemuan menjadi lebih bermakna".
pada situasi normal, ada saja alasan saya untuk ngomel2, senewen dsb. tapi pada situasi dimana suami hanya 2 hari dalam seminggu dirumahnya, masak iya saya mau habiskan waktu buat ngomel. nggak dong ya? justru kebersamaan yang terjalin rasanya indaaaah banget. lebih indah dibanding hari2 biasanya.
ahhh... susah deh diungkapkan dengan kata2.
hanya ini yang bisa mengungkapkan;
"mami...., buka pintunya, aku mau bilang sama mami", atau
"mami..., kok di kamar terus sih" hahahahahahah.......................
"mengambil hikmah atas segala peristiwa", hmmmm... benar juga!! daripada bermuram durja, menghitung hari yang justru semakin dihitung semakin terasa lamban.
Hikmahnya?
"semakin lama berpisah, pertemuan menjadi lebih bermakna".
pada situasi normal, ada saja alasan saya untuk ngomel2, senewen dsb. tapi pada situasi dimana suami hanya 2 hari dalam seminggu dirumahnya, masak iya saya mau habiskan waktu buat ngomel. nggak dong ya? justru kebersamaan yang terjalin rasanya indaaaah banget. lebih indah dibanding hari2 biasanya.
ahhh... susah deh diungkapkan dengan kata2.
hanya ini yang bisa mengungkapkan;
"mami...., buka pintunya, aku mau bilang sama mami", atau
"mami..., kok di kamar terus sih" hahahahahahah.......................
"Mami, suaraku kok jelek kalo menyanyi..."
menemani anak2 "mengeksplorasi dunia" memang seakan tak ada habisnya. setiap hari ada saja hal baru yang mereka lakukan. sederhana, tapi inspiratif. kadang2 untuk hal2yang oleh anak2 saya dianggap sesuatu yang besar dan hebat, oleh Mbak Lala yang sepupu sekaligus teman mainnya dibilang, "ah, cuma kayak gitu aja". yang jadi masalah, anak2 saya doyan sekali pamer. maksudnya, karya sekecil apapun yang mereka hasilkan selalu minta untuk di apresiasi. kadang2 memang cukup saya saja yang mengapresiasi, "waaah... bagus banget. anak mami memang hebat". akan tetapi seringkali tak cukup hanya saya. anak2 ingin papinya juga melihat karya mereka.
"mami, jangan diberesin dulu ya. biar papi lihat". atau
"mami, bunganya ditaruh di vas terus disimpan ya, biar besok pagi2 papi lihat. papi pasti kaget". pinta anak2 hanya untuk seikat bunga rumput yang mereka ambil dari depan rumah.
hari2 ini anak2 sedang senang menggambar. kakak yang lebih inspiratif. lebih tepatnya, "tak takut jelek". hasilnya, terbentuklah rumah lengkap dengan terasnya. kereta lengkap dengan roda dan relnya. bunga dengan tangkainya. gunung. matahari. anak ayam, dll.
"mami, aku hebat. aku bisa menggambar anak ayam", kata kakak kemaren sore.
"tapi aku tidak bisa buat anak ayam mi. aku tidak hebat kayak kakak", kata adek.
selain menggambar, aktifitas lain adalah menyanyi.
orang bilang "buah jatuh tak jauh dari pohonnya". sama persis dengan anak saya. saya dan suami tak suka (dan memang tak bisa) menyanyi. hasilnya tentu saja bisa ditebak. anak2 dari kecil juga tak suka menyanyi.
nah, yang jadi persoalan, teman main anak2 saya sejak di jakarta hingga sekarang di lampung, piawai sekali menyanyi. bukan hanya lagu anak2. bahkan lagu2 dewasa mereka bisa menyanyikannya. dulu ketika masih di jakarta, lagi trend2nya lagu ayat2 cinta. mbak salsa dan mbak zahra, sepupu sekaligus teman mainnya pintar sekali menyanyikannya. tapi anak2 saya sama sekali tak bisa menirukannya. kalau tertarik mungkin saja mereka tertarik.
sekarang, lagi trend2nya lagu ST12. mbak lala pintar sekali menyanyikannya. hingga ketika mbak lala nyanyi lagu ST 12 yang menjadi soundtrack sinetron Nikita kesayangan anak2, kakak nyeletuk;
"aku juga bisa, tapi dalam hati". wakakakakakak.......
suatu kali ketika anak2 saya mengeksplorasi kemampuan menyanyinya, tiba2 kakak bilang;
"mami, suaraku kok jelek kalo menyanyi...."
hahahahah....mesti bilang apa gw!!
"mami, jangan diberesin dulu ya. biar papi lihat". atau
"mami, bunganya ditaruh di vas terus disimpan ya, biar besok pagi2 papi lihat. papi pasti kaget". pinta anak2 hanya untuk seikat bunga rumput yang mereka ambil dari depan rumah.
hari2 ini anak2 sedang senang menggambar. kakak yang lebih inspiratif. lebih tepatnya, "tak takut jelek". hasilnya, terbentuklah rumah lengkap dengan terasnya. kereta lengkap dengan roda dan relnya. bunga dengan tangkainya. gunung. matahari. anak ayam, dll.
"mami, aku hebat. aku bisa menggambar anak ayam", kata kakak kemaren sore.
"tapi aku tidak bisa buat anak ayam mi. aku tidak hebat kayak kakak", kata adek.
selain menggambar, aktifitas lain adalah menyanyi.
orang bilang "buah jatuh tak jauh dari pohonnya". sama persis dengan anak saya. saya dan suami tak suka (dan memang tak bisa) menyanyi. hasilnya tentu saja bisa ditebak. anak2 dari kecil juga tak suka menyanyi.
nah, yang jadi persoalan, teman main anak2 saya sejak di jakarta hingga sekarang di lampung, piawai sekali menyanyi. bukan hanya lagu anak2. bahkan lagu2 dewasa mereka bisa menyanyikannya. dulu ketika masih di jakarta, lagi trend2nya lagu ayat2 cinta. mbak salsa dan mbak zahra, sepupu sekaligus teman mainnya pintar sekali menyanyikannya. tapi anak2 saya sama sekali tak bisa menirukannya. kalau tertarik mungkin saja mereka tertarik.
sekarang, lagi trend2nya lagu ST12. mbak lala pintar sekali menyanyikannya. hingga ketika mbak lala nyanyi lagu ST 12 yang menjadi soundtrack sinetron Nikita kesayangan anak2, kakak nyeletuk;
"aku juga bisa, tapi dalam hati". wakakakakakak.......
suatu kali ketika anak2 saya mengeksplorasi kemampuan menyanyinya, tiba2 kakak bilang;
"mami, suaraku kok jelek kalo menyanyi...."
hahahahah....mesti bilang apa gw!!
09 Mei 2009
07 Mei 2009
Perempuan Pemberani Vs Perempuan Hebat tapi Tidak Pemberani

awalnya begini;
"mami, kenapa perempuan itu tidak pemberani?", pertanyaan yang membuat saya tersentak kaget.
"lho, perempuan juga pemberani kok nak", jawab saya.
"tidak. perempuan itu tidak pemberani. yang pemberani itu laki2", jawab adek berusaha bertahan.
"adek lihat di TV ya?", tanya saya curiga.
"iya. kan kalo di TV itu kan kalo ada orang jahat itu perempuan tidak pemberani", adek menjelaskan.
"yang pemberani itu laki2", lanjut adek.
lalu saya mencoba menjelaskan sambil tentu saja menahan senyum kecut.
"itu cuma di TV sayang. perempuan itu juga harus pemberani. harus hebat. biar kalau ada orang jahat bisa dilawan. kakak sama adek juga harus begitu. harus jadi perempuan pemberani dan hebat. nanti kalau kakak adek sudah SD, kakak sama adek harus ikut Tapak Suci", kata saya mencoba menjelaskan.
"Tapak Suci itu apa mi?, tanya kakak.
"Tapak Suci itu olah raga bela diri. begini ni, hyat..hyat...", kata saya sambil memperagakan gerakan2 meninju dan menendang. anak2 tertawa.
"jadi kalau ada orang jahat kakak sama adek bisa lawan!", kata saya lagi.
__________________________
bagi sebagian orang mungkin itu cuma obrolan ringan. tapi bagi saya itu adalah hal yang sungguh mengejutkan. ternyata saya telah gagal mensosialisasikan pemahaman gender pada anak2 saya. mereka bahkan sudah mengidentifikasi perbedaan jenis mainan antara laki2 dan perempuan, perbedaan jenis tontonan TV, perbedaan jenis warna, perbedaan jenis pekerjaan.
diatas segalanya, mensosialisasikan kesadaran gender ditengah2 kehidupan keluarga dan lingkungan yang masih sangat patriarkhi jelas saja sangat sulit. apalagi terhadap anak2, yang pemahaman dan prilakunya banyak terbentuk oleh apa yang dilihatnya.
tetap semangat dan berjuang tak kenal putus asa. karena nyatanya hanya dengan obrolan ringan diatas, adek sudah bisa mengidentifikasi dirinya menjadi "Perempuan Pemberani". dan kakak mengidentifikasi dirinya sebagai "Perempuan Hebat tapi Tidak Pemberani" hehehehe........
"aku ini perempuan pemberani", kata adek.
"aku perempuan hebat tapi tidak pemberani", kata kakak.
"mami, kenapa perempuan itu tidak pemberani?", pertanyaan yang membuat saya tersentak kaget.
"lho, perempuan juga pemberani kok nak", jawab saya.
"tidak. perempuan itu tidak pemberani. yang pemberani itu laki2", jawab adek berusaha bertahan.
"adek lihat di TV ya?", tanya saya curiga.
"iya. kan kalo di TV itu kan kalo ada orang jahat itu perempuan tidak pemberani", adek menjelaskan.
"yang pemberani itu laki2", lanjut adek.
lalu saya mencoba menjelaskan sambil tentu saja menahan senyum kecut.
"itu cuma di TV sayang. perempuan itu juga harus pemberani. harus hebat. biar kalau ada orang jahat bisa dilawan. kakak sama adek juga harus begitu. harus jadi perempuan pemberani dan hebat. nanti kalau kakak adek sudah SD, kakak sama adek harus ikut Tapak Suci", kata saya mencoba menjelaskan.
"Tapak Suci itu apa mi?, tanya kakak.
"Tapak Suci itu olah raga bela diri. begini ni, hyat..hyat...", kata saya sambil memperagakan gerakan2 meninju dan menendang. anak2 tertawa.
"jadi kalau ada orang jahat kakak sama adek bisa lawan!", kata saya lagi.
__________________________
bagi sebagian orang mungkin itu cuma obrolan ringan. tapi bagi saya itu adalah hal yang sungguh mengejutkan. ternyata saya telah gagal mensosialisasikan pemahaman gender pada anak2 saya. mereka bahkan sudah mengidentifikasi perbedaan jenis mainan antara laki2 dan perempuan, perbedaan jenis tontonan TV, perbedaan jenis warna, perbedaan jenis pekerjaan.
diatas segalanya, mensosialisasikan kesadaran gender ditengah2 kehidupan keluarga dan lingkungan yang masih sangat patriarkhi jelas saja sangat sulit. apalagi terhadap anak2, yang pemahaman dan prilakunya banyak terbentuk oleh apa yang dilihatnya.
tetap semangat dan berjuang tak kenal putus asa. karena nyatanya hanya dengan obrolan ringan diatas, adek sudah bisa mengidentifikasi dirinya menjadi "Perempuan Pemberani". dan kakak mengidentifikasi dirinya sebagai "Perempuan Hebat tapi Tidak Pemberani" hehehehe........
"aku ini perempuan pemberani", kata adek.
"aku perempuan hebat tapi tidak pemberani", kata kakak.
Puskesmas Vs Dokter Spesialis
seingat saya, terakhir anak2 sakit adalah bulan Oktober 2008. saya bahagia sekali anak2 tumbuh menjadi anak2 yang sehat dan kuat. bahkan, Nopember ketika rumah berantakan dan debu beterbangan karena proses packing menjelang pindahan ke lampung, anak2 tetap survaiv. tetap sehat dan segar. hingga pindahan dan menempati rumah baru yang juga sangat berdebu karna 2 tahun tak ditempatipun, mereka tetap survaiv. subhanallaaah......
minggu kemaren, mbak sari yang KO. Flu. saya pasrah kalaupun misalnya anak2 akan tertular. toh sudah lama sekali tidak sakit, begitu batin saya. nah, ketika adek tiba2 badannya hangat, lalu perlahan merangkak menjadi sedikit panas, saya menenangkan diri dengan mengatakan "ga papa. memang waktunya sakit".
pertolongan pertama, tentu saja Tempra yang selalu siap sedia di kotak obat. pelajaran buat ibu2, tua maupun muda, selalu siapkan obat2 kategori P3K dirumah. misalnya, obat turun panas plus termometernya, alkohol+betadin+kassa+plester, thrombopop untuk luka memar atau benjol, dan bio placenton untuk luka bakar.
kembali ke soal adek, alhamdulillah panas tak berlanjut, tapi esoknya tiba2 hangat lagi diiringi pilek dan batuk. wah, tak bisa tidak, harus segera dibawa berobat sebelum menjadi2 batuk dan pileknya.
Puskesmas!!
lho, kok puskesmas? mungkin orang2 akan bertanya begitu. bagi banyak orang, puskesmas memang tidak menjadi pilihan untuk mengatasi masalah kesehatan, apalagi untuk anak2. bagi saya, kenapa puskesmas, bukan dokter spesialis, adalah soal pilihan. ya, ini soal pilihan. yang bukan semata2 dilatarbelakangi soal biaya yang hanya 2500 perak sekali datang. karena soal biaya, siapapun orangnya, semahal apapun, pasti dijalani demi anak. saya hanya menggunakan logika "kalau di puskesmas saja sembuh, kenapa mesti dibawa ke dokter spesialis?". ini benar2 pilihan sadar saya soal solusi kesehatan bagi keluarga saya. dan alhamdulillah, hingga anak2 menjelang usia 5 tahun, bisa dihitung dengan jari anak2 saya bertemu dengan dokter spesialis anak. itu terjadi kalau diagnosa dan pengobatan puskesmas tidak membuahkan hasil setelah 2 kali kunjungan, atau memang direkomendasi oleh dokter puskesmas untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
apalagi, puskesmas juga punya standart pengobatan yang terstruktur dan terkontrol dengan baik. misalnya, pada kunjungan pertama, jika belum perlu diberikan anti biotik ya tidak diberikan anti biotik. atau untuk mendiagnosa demam misalnya, jika demamnya sdh 3 hari langsung diminta untuk tes laboratorium, baru kemudian didiagnosa apa penyebab demamnya.
salah satu dari sedikit kasus yang dokter puskesmas salah diagnosa adalah ketika anak2 bermasalah dengan kulit disekitar pahanya. kasar, putih2, dan menyebar. tapi tak gatal. dokter puskesmas memastikan bahwa itu adalah jamur. dan dilihat dari indikasinya, memang pas jika disebut jamur. karena wujudnya hampir sama mirip dengan panu. sampai salepnya habis tak juga membaik. akhirnya atas rekomendasi teman, saya datang ke dr. Tumpal, Sp. A. di RS Yadika pondok Bambu. dengan sangat meyakinkan, dr. Tumpal mengatakan bahwa itu bukan jamur. melainkan alergi. lalu saya disarankan untuk menjauhkan anak2 dari semua jenis makanan instan. menurut beliau, makanan instan itu "semua jenis makanan buatan pabrik". selain itu saya juga diminta untuk stop sementara semua jenis hasil laut dan produk olahannya. ayam hanya boleh jika ayam kampung. telur juga harus telur kampung. ikan air tawar hanya boleh ikan yang organik tak makan pelet. selain itu saya juga dibekali salep dan pelembab.
saya pulang dengan pikiran bahwa beberapa waktu kedepan, anak2 saya akan saya jadikan vegetarian! dan benar saja, belum sebulan, masalah kulit anak2 benar2 teratasi. kulit anak2 mulus kembali.
akan tetapi, pengalaman itu tak lantas membuat saya apriori dengan dokter puskesmas, dan menjadi fanatik dengan dokter spesialis. menurut saya itu hanya faktor kebetulan. karena jauh hari sebelum kejadian itu, saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan dokter spesialis.
ceritanya anak2 bermasalah dengan kulit pantatnya. ruam2 merah, gatal, berpindah2 seperti berjalan. melihat indikasinya, dokter puskesmas curiga itu adalah cacing. lalu saya diminta untuk membeli dan meminumkan satu jenis abat cacing yang kebetulan tak tersedia di apotik puskesmas. saya menurut saja karena memang seumur2 anak2 belum pernah saya minumin obat cacing. tapi sayang, tetap saja tak ada perubahan. bahkan ruamnya semakin leluasa berjalan2.
ditengah kepanikan, saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit di RS Harum Kalimalang.
"ah, tidak apa2. hanya infeksi ringan. ini saya kasih salep", kata si dokter spesialis kulit dengan pede-nya.
"kalau tidak sembuh juga dok", saya tetap merasa tak yakin.
"sembuh", kata dokter kembali meyakinkan.
"masalahnya saya mau pulang kampung ni dok", kata saya lagi.
"sudah ga papa. sembuh...sembuh...", wih pede banget dokternya.
akhirnya saya dan suami saya pulang dengan keyakinan bahwa masalah kulit pantat ini pasti terselesaikan. tapi sayang seribu sayang. hingga kami tiba di kampung dan road show keliling silaturrahmi dalam rangka lebaran, masalah tetap belum terselesaikan. tentu saja saya frustasi. apalagi ruam punya kakak sudah berjalan mendekati pinggir anus. dan ruam punya adek berada di daerah pinggir vagina.
dalam kekalutan, ketika kami sekeluarga silaturrahmi ke rumah Pakde Humam yang Mantri Puskesmas, saya mendapatkan diagnosa yang mengejutkan!
"ini cacing. kalau orang desa bilangnya cacing pasir. dia jalan terus kan?", tanya Pakde Humam.
"iya pakde. kata dokter puskesmas di jakarta memang indikasinya mengarah ke cacing. trus sudah diminumin obat cacing, tapi kok ga sembuh", kata saya menjelaskan.
"ya nggak ngaruh. obat cacing yang diminum kan untuk cacing yang di perut", bantah pakde Humam.
"iya juga ya?", kata saya sedikit malu. "trus gimana dong pakde", kata saya lagi.
"gampang. bisa dengan cara medis. disemprot. ada alat dan obatnya. tapi mahal. kalau mau cara yang murah bisa di kompres dengan es batu", terang pakde.
masuk akal juga, apalagi cacing itu didalam kulit tapi diluar daging.
"kompres esnya sehari berapa kali pakde?", tanya saya.
"2 kali boleh. 5 - 10 menit saja. ga sampai 10 hari cacingnya pasti sudah mati", pakde mantri meyakinkan.
hari itu juga saya kompres ruamnya dengan es batu. esoknya ketika pulang kerumah mbah di sukadana, di kompres lagi. dan.... subhanallah......baru 2 kali kompres, cacingnya sudah layu, kemudian mati.
ternyata, dokter spesialis tak selalu lebih hebat dari mantri puskesmas kan?
minggu kemaren, mbak sari yang KO. Flu. saya pasrah kalaupun misalnya anak2 akan tertular. toh sudah lama sekali tidak sakit, begitu batin saya. nah, ketika adek tiba2 badannya hangat, lalu perlahan merangkak menjadi sedikit panas, saya menenangkan diri dengan mengatakan "ga papa. memang waktunya sakit".
pertolongan pertama, tentu saja Tempra yang selalu siap sedia di kotak obat. pelajaran buat ibu2, tua maupun muda, selalu siapkan obat2 kategori P3K dirumah. misalnya, obat turun panas plus termometernya, alkohol+betadin+kassa+plester, thrombopop untuk luka memar atau benjol, dan bio placenton untuk luka bakar.
kembali ke soal adek, alhamdulillah panas tak berlanjut, tapi esoknya tiba2 hangat lagi diiringi pilek dan batuk. wah, tak bisa tidak, harus segera dibawa berobat sebelum menjadi2 batuk dan pileknya.
Puskesmas!!
lho, kok puskesmas? mungkin orang2 akan bertanya begitu. bagi banyak orang, puskesmas memang tidak menjadi pilihan untuk mengatasi masalah kesehatan, apalagi untuk anak2. bagi saya, kenapa puskesmas, bukan dokter spesialis, adalah soal pilihan. ya, ini soal pilihan. yang bukan semata2 dilatarbelakangi soal biaya yang hanya 2500 perak sekali datang. karena soal biaya, siapapun orangnya, semahal apapun, pasti dijalani demi anak. saya hanya menggunakan logika "kalau di puskesmas saja sembuh, kenapa mesti dibawa ke dokter spesialis?". ini benar2 pilihan sadar saya soal solusi kesehatan bagi keluarga saya. dan alhamdulillah, hingga anak2 menjelang usia 5 tahun, bisa dihitung dengan jari anak2 saya bertemu dengan dokter spesialis anak. itu terjadi kalau diagnosa dan pengobatan puskesmas tidak membuahkan hasil setelah 2 kali kunjungan, atau memang direkomendasi oleh dokter puskesmas untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
apalagi, puskesmas juga punya standart pengobatan yang terstruktur dan terkontrol dengan baik. misalnya, pada kunjungan pertama, jika belum perlu diberikan anti biotik ya tidak diberikan anti biotik. atau untuk mendiagnosa demam misalnya, jika demamnya sdh 3 hari langsung diminta untuk tes laboratorium, baru kemudian didiagnosa apa penyebab demamnya.
salah satu dari sedikit kasus yang dokter puskesmas salah diagnosa adalah ketika anak2 bermasalah dengan kulit disekitar pahanya. kasar, putih2, dan menyebar. tapi tak gatal. dokter puskesmas memastikan bahwa itu adalah jamur. dan dilihat dari indikasinya, memang pas jika disebut jamur. karena wujudnya hampir sama mirip dengan panu. sampai salepnya habis tak juga membaik. akhirnya atas rekomendasi teman, saya datang ke dr. Tumpal, Sp. A. di RS Yadika pondok Bambu. dengan sangat meyakinkan, dr. Tumpal mengatakan bahwa itu bukan jamur. melainkan alergi. lalu saya disarankan untuk menjauhkan anak2 dari semua jenis makanan instan. menurut beliau, makanan instan itu "semua jenis makanan buatan pabrik". selain itu saya juga diminta untuk stop sementara semua jenis hasil laut dan produk olahannya. ayam hanya boleh jika ayam kampung. telur juga harus telur kampung. ikan air tawar hanya boleh ikan yang organik tak makan pelet. selain itu saya juga dibekali salep dan pelembab.
saya pulang dengan pikiran bahwa beberapa waktu kedepan, anak2 saya akan saya jadikan vegetarian! dan benar saja, belum sebulan, masalah kulit anak2 benar2 teratasi. kulit anak2 mulus kembali.
akan tetapi, pengalaman itu tak lantas membuat saya apriori dengan dokter puskesmas, dan menjadi fanatik dengan dokter spesialis. menurut saya itu hanya faktor kebetulan. karena jauh hari sebelum kejadian itu, saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan dokter spesialis.
ceritanya anak2 bermasalah dengan kulit pantatnya. ruam2 merah, gatal, berpindah2 seperti berjalan. melihat indikasinya, dokter puskesmas curiga itu adalah cacing. lalu saya diminta untuk membeli dan meminumkan satu jenis abat cacing yang kebetulan tak tersedia di apotik puskesmas. saya menurut saja karena memang seumur2 anak2 belum pernah saya minumin obat cacing. tapi sayang, tetap saja tak ada perubahan. bahkan ruamnya semakin leluasa berjalan2.
ditengah kepanikan, saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit di RS Harum Kalimalang.
"ah, tidak apa2. hanya infeksi ringan. ini saya kasih salep", kata si dokter spesialis kulit dengan pede-nya.
"kalau tidak sembuh juga dok", saya tetap merasa tak yakin.
"sembuh", kata dokter kembali meyakinkan.
"masalahnya saya mau pulang kampung ni dok", kata saya lagi.
"sudah ga papa. sembuh...sembuh...", wih pede banget dokternya.
akhirnya saya dan suami saya pulang dengan keyakinan bahwa masalah kulit pantat ini pasti terselesaikan. tapi sayang seribu sayang. hingga kami tiba di kampung dan road show keliling silaturrahmi dalam rangka lebaran, masalah tetap belum terselesaikan. tentu saja saya frustasi. apalagi ruam punya kakak sudah berjalan mendekati pinggir anus. dan ruam punya adek berada di daerah pinggir vagina.
dalam kekalutan, ketika kami sekeluarga silaturrahmi ke rumah Pakde Humam yang Mantri Puskesmas, saya mendapatkan diagnosa yang mengejutkan!
"ini cacing. kalau orang desa bilangnya cacing pasir. dia jalan terus kan?", tanya Pakde Humam.
"iya pakde. kata dokter puskesmas di jakarta memang indikasinya mengarah ke cacing. trus sudah diminumin obat cacing, tapi kok ga sembuh", kata saya menjelaskan.
"ya nggak ngaruh. obat cacing yang diminum kan untuk cacing yang di perut", bantah pakde Humam.
"iya juga ya?", kata saya sedikit malu. "trus gimana dong pakde", kata saya lagi.
"gampang. bisa dengan cara medis. disemprot. ada alat dan obatnya. tapi mahal. kalau mau cara yang murah bisa di kompres dengan es batu", terang pakde.
masuk akal juga, apalagi cacing itu didalam kulit tapi diluar daging.
"kompres esnya sehari berapa kali pakde?", tanya saya.
"2 kali boleh. 5 - 10 menit saja. ga sampai 10 hari cacingnya pasti sudah mati", pakde mantri meyakinkan.
hari itu juga saya kompres ruamnya dengan es batu. esoknya ketika pulang kerumah mbah di sukadana, di kompres lagi. dan.... subhanallah......baru 2 kali kompres, cacingnya sudah layu, kemudian mati.
ternyata, dokter spesialis tak selalu lebih hebat dari mantri puskesmas kan?
05 Mei 2009
Ketika Anak2 Mencintai dan Gemar Membaca Buku


kebahagiaan saya memiliki anak2 yang bisa membaca sejak dini semakin lengkap ketika dalam perkembangannya anak2 tumbuh menjadi anak2 yang mencintai dan gemar membaca buku. antusiasme anak2 ketika diajak ke toko buku, atau permintaan buku sebagai 'oleh2', adalah bukti betapa buku sudah menjadi kebutuhan mereka yang minta untuk dipenuhi.
subhanallah, tak habis2 saya memuji Kebesaran dan Ke-Maha Sucian Allah. jika Allah tak berkehendak, maka tak akan mungkin cita2 dan ikhtiar saya, sekuat apapun, akan terwujud.
untuk mewujudkan rasa syukur, saya selalu berusaha memfasilitasi anak2 dengan buku2 bacaan bermutu. semahal apapun harganya. ya...bukan rahasia umum ketika harga buku2 sekarang mahalnya minta ampun.
kira2 5 bulan yang lalu, atau awal2 kami pindah ke lampung, saya pernah janji ke anak2 untuk membelikan buku Ensiklopedi Bocah Muslim terbitan Mizan Dian Semesta. saya perlu berpikir berulangkali untuk menepati janji itu karena ternyata harganya mahal sekali. 2,5 jutaan per set (15 buku) tunai. jika membeli dengan cara kridit, maka saya mesti mengeluarkan uang untuk Investasi Awal (DP) 650 rb-an. besar sekali "sekedar" untuk membeli buku.
tapi, kalau logika yang saya gunakan adalah Investasi Ilmu, yang keuntungannya berlaku jangka panjang, maka sebesar apapun dana yang mesti saya keluarkan, jika ada, tak mungkin tak saya keluarkan. dan Alhamdulillah, Pustaka Sains Populer Islami karya Harun Yahya (1,6 jt-an), Halo Balita (1,5 jt-an), dan hari ini Ensiklopedi Bocah Muslim (2,5 jt-an). belum termasuk buku2 lain yang jumlahnya lebih kurang 100 an buah.
ini sebagai bukti komitmen saya untuk membantu menstimulasi tumbuh kembang anak2 secara maksimal. mudah2an bermanfaat hingga dewasa kelak. amiin...
03 Mei 2009
Ketika Saya Harus Memilih...
keputusan saya untuk pindah ke lampung dg status suami masih bekerja di jakarta memunculkan tanya bagi banyak orang. keputusan saya memang tidak populer. bahkan kalau boleh jujur, saya sendiri merasa berat menjalaninya. sangat sangat sangat berat.
dulu, awal saya tinggal di jakarta adalah karena saya merasa tidak mampu manjalani kehidupan berkeluarga jauh dari suami yang bekerja di jakarta. maka, boyonganlah saya ke jakarta. lalu kenapa sekarang justru kembali lagi ke lampung padahal suami masih bekerja di jakarta?
hidup ini selalu dihadapkan pada pilihan2. kadangkala saya berhadapan dengan 2 pilihan yang sama2 gampang. namun kadangkala pada dua hal yang sama2 sulit. dan kali ini, saya dihadapkan pada pilihan sulit.
tetap tinggal di jakarta dengan status "kontraktor" alias tinggal di rumah kontrakan, tentu saja bukan pilihan bagus untuk diambil. apalagi jika harus berpindah2 dengan jumlah perabotan yang lumayan banyak.
@pertama, proses pindahan meninggalkan trauma mendalam bagi saya. pusing dan capek luar biasa. belum lagi perasaan bersalah telah mengabaikan anak2 selama proses pindahan.
@kedua, soal biaya juga menjadi hal yang sangat patut dipertimbangkan. mencari rumah yang 'layak huni' dengan biaya murah, merupakan hal yang hampir mustahil.
@ketiga, kalaupun ada saran dari teman2 untuk mengambil rumah, KPR misalnya, maka tentu saja lokasinya jauh di Bekasi, depok atau bogor. tentu saja saya tak berani ambil resiko hidup jauh dari saudara dan kerabat. naif? biarlah.
@keempat, psikologis anak2 menjadi hal paling penting diantara hal2 lainnya. saya tidak ingin anak2 tumbuh di lingkungan yang berpindah2. jaminan mendapatkan teman dan lingkungan yang baik jelas tidak ada. benar bahwa hampir 4 tahun anak2 pernah tinggal dilingkungan yang cukup baik di kalibata. tapi baik dalam konteks berpikir yang seperti apa? apakah akan menjadi baik ketika anak2 saya berteman dengan anak2 seusianya yang "semuanya" mempunya mobil sementara anak2 saya tidak? anak2 mungkin saja belum mengerti benar, tapi miris bagi saya ketika anak2 begitu terobsesi untuk membeli mobil dari uang receh yang tiap hari dimasukkannya ke celengan.
saya ingin anak2 saya tumbuh dilingkungan yang sesuai dengan kehidupan mereka yang sesungguhnya. saya ingin anak2 tumbuh dan berkembang di "istana kecil" mereka sendiri. bukan di "rumah orang" yang berpindah2 dan berganti2. meski resikonya, saya harus jauh dari suami saya, sementara anak2 jauh dari papinya.
bismillah....setiap pilihan pasti ada resiko yang menyertainya. asal niatnya baik dan menjalaninya dengan ikhlas, insyaallah langkah saya kedepan diringankan oleh Allah Swt. amiin.....
dulu, awal saya tinggal di jakarta adalah karena saya merasa tidak mampu manjalani kehidupan berkeluarga jauh dari suami yang bekerja di jakarta. maka, boyonganlah saya ke jakarta. lalu kenapa sekarang justru kembali lagi ke lampung padahal suami masih bekerja di jakarta?
hidup ini selalu dihadapkan pada pilihan2. kadangkala saya berhadapan dengan 2 pilihan yang sama2 gampang. namun kadangkala pada dua hal yang sama2 sulit. dan kali ini, saya dihadapkan pada pilihan sulit.
tetap tinggal di jakarta dengan status "kontraktor" alias tinggal di rumah kontrakan, tentu saja bukan pilihan bagus untuk diambil. apalagi jika harus berpindah2 dengan jumlah perabotan yang lumayan banyak.
@pertama, proses pindahan meninggalkan trauma mendalam bagi saya. pusing dan capek luar biasa. belum lagi perasaan bersalah telah mengabaikan anak2 selama proses pindahan.
@kedua, soal biaya juga menjadi hal yang sangat patut dipertimbangkan. mencari rumah yang 'layak huni' dengan biaya murah, merupakan hal yang hampir mustahil.
@ketiga, kalaupun ada saran dari teman2 untuk mengambil rumah, KPR misalnya, maka tentu saja lokasinya jauh di Bekasi, depok atau bogor. tentu saja saya tak berani ambil resiko hidup jauh dari saudara dan kerabat. naif? biarlah.
@keempat, psikologis anak2 menjadi hal paling penting diantara hal2 lainnya. saya tidak ingin anak2 tumbuh di lingkungan yang berpindah2. jaminan mendapatkan teman dan lingkungan yang baik jelas tidak ada. benar bahwa hampir 4 tahun anak2 pernah tinggal dilingkungan yang cukup baik di kalibata. tapi baik dalam konteks berpikir yang seperti apa? apakah akan menjadi baik ketika anak2 saya berteman dengan anak2 seusianya yang "semuanya" mempunya mobil sementara anak2 saya tidak? anak2 mungkin saja belum mengerti benar, tapi miris bagi saya ketika anak2 begitu terobsesi untuk membeli mobil dari uang receh yang tiap hari dimasukkannya ke celengan.
saya ingin anak2 saya tumbuh dilingkungan yang sesuai dengan kehidupan mereka yang sesungguhnya. saya ingin anak2 tumbuh dan berkembang di "istana kecil" mereka sendiri. bukan di "rumah orang" yang berpindah2 dan berganti2. meski resikonya, saya harus jauh dari suami saya, sementara anak2 jauh dari papinya.
bismillah....setiap pilihan pasti ada resiko yang menyertainya. asal niatnya baik dan menjalaninya dengan ikhlas, insyaallah langkah saya kedepan diringankan oleh Allah Swt. amiin.....
Akhirnya ber-NA juga!
setelah hampir 6 tahun tidak terlibat dalam komunitas sosial apapun, akhirnya "I'm come back". dan Nasyiatul Aisyiyah (NA) mantap menjadi pilihan. kebetulan momentnya datang tepat pd waktunya. musywil XI. saya didaulat menjadi sekretaris OC. entah apa pertimbangan mereka. padahal setelah hampir 6 tahun tak terlibat dalam pengorganisasian apapun, secara pribadi, saya justru msh membutuhkan waktu yang cukup untuk menyesuaikan diri. penyesuaian yang bukan hanya menyangkut 'rasa' yang harus ditata. lebih parah dari itu, tidakkah mereka berpikir, apa yg bisa dilakukan seseorang yang hampir 6 th murni berprofesi sbg pekerja rumah tangga?
sambil meraba2, saya memulai aktifitas sosial saya di NA. pengalaman ber- IRM dan IMM yang pernah saya jalani selama bertahun2 memberi saya banyak inspirasi, khususnya soal teknis berorganisasi. artinya, untuk soal2 teknis, saya tak mengalami banyak kendala. yg menjadi persoalan justru kesulitan saya untuk berinteraksi dengan teman2 yang seluruhnya perempuan!
dulu, saya sangat apriori dengan NA. tak jelas apa alasannya. saya hanya merasa komunitas NA itu aneh. perempuan yang ngurusi soal perempuan. kayak jeruk makan jeruk. padahal masalah2 keperempuanan menjadi tanggungjawab laki2 juga kan? wong yang menjadikan perempuan hidup 'berlumur' masalah juga laki2 kok! lalu kenapa seolah2 yang harus bertanggungjawab justru perempuan sendiri? kan aneh!
tapi, mewacanakan hal itu ke teman2 NA sama saja dengan mengendus bau ikan asin di padang pasir. satu hal yang mustahil. biarlah saya hanyut terbawa angin. mengikuti kemana arah angin berhembus. sesekali mengeluarkan kekuatan untuk melawan bolehlah. tapi mungkin tidak sekarang. akan ada waktunya!
yang harus saya lakukan sekarang tentu saja pasrah dan meniatkan seluruh aktifitas ber-NA saya untuk ibadah. saya tidak mau waktu, tenaga, pikiran saya terbuang sia2 hanya karena saya salah memulai niat.
sambil meraba2, saya memulai aktifitas sosial saya di NA. pengalaman ber- IRM dan IMM yang pernah saya jalani selama bertahun2 memberi saya banyak inspirasi, khususnya soal teknis berorganisasi. artinya, untuk soal2 teknis, saya tak mengalami banyak kendala. yg menjadi persoalan justru kesulitan saya untuk berinteraksi dengan teman2 yang seluruhnya perempuan!
dulu, saya sangat apriori dengan NA. tak jelas apa alasannya. saya hanya merasa komunitas NA itu aneh. perempuan yang ngurusi soal perempuan. kayak jeruk makan jeruk. padahal masalah2 keperempuanan menjadi tanggungjawab laki2 juga kan? wong yang menjadikan perempuan hidup 'berlumur' masalah juga laki2 kok! lalu kenapa seolah2 yang harus bertanggungjawab justru perempuan sendiri? kan aneh!
tapi, mewacanakan hal itu ke teman2 NA sama saja dengan mengendus bau ikan asin di padang pasir. satu hal yang mustahil. biarlah saya hanyut terbawa angin. mengikuti kemana arah angin berhembus. sesekali mengeluarkan kekuatan untuk melawan bolehlah. tapi mungkin tidak sekarang. akan ada waktunya!
yang harus saya lakukan sekarang tentu saja pasrah dan meniatkan seluruh aktifitas ber-NA saya untuk ibadah. saya tidak mau waktu, tenaga, pikiran saya terbuang sia2 hanya karena saya salah memulai niat.
30 April 2009
Menetap dan Bermasyarakat
selain soal "kembalinya saya ke komunitas lama", kepindahan saya dan keluarga ke lampung juga menghadirkan pelajaran berharga soal problematika "hidup bermasyarakat".
masa kanak2 hingga remaja tentu saja tak bisa dipaksa untuk memaknai apa itu kehidupan bermasyarakat. karena seluruh urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak dilakukan dan diambil alih oleh orang tua. pada masa kuliahpun, saya masih tak bisa dipaksa untuk menyadari bahwa saya adalah bagian kecil dari masyarakat.
setelah menikah dan tinggal di jakarta, tak juga saya mendapatkan pelajaran soal kehidupan bermasyarakat. kalaupun ada tuntutan dari lingkungan, tak lebih dari sekedar senyum sapa basa basi dengan tetangga.
memantapkan diri menetap di lampung, memaksa saya untuk lebih memahami makna hakiki dari kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. bagaimana saya mampu memantapkan hati untuk menyatu dan berbaur dengan komunitas masyarakat yang tak sedikit jumlahnya. menghadiri undangan pesta, ikut arisan, ikut pengajian, senam, dll adalah bukti nyata komitmen dan itikad baik saya sebagai bagian dari anggota masyarakat.
Waktunya telah Tiba....
kepindahan saya dan keluarga ke lampung nopember 2008, memberi warna baru dalam kehidupan pribadi saya. warna baru yang sesungguhnya tak murni baru.
"kembali ke komunitas lama", itu intinya.
ada rasa suka cita tak terhingga. meski jujur harus saya akui bahwa saya tetap butuh waktu untuk adaptasi dan menyesuaikan diri. hampir 6 tahun saya 'sembunyi'. sementara dalam waktu bersamaan orang2 sibuk dengan dunia aktual mereka. ya, saya butuh waktu untuk kembali. masa transisi pasti terjadi pada semua orang. maksudnya, semua orang pasti mengalami situasi transisi.
dulu saya gagap ketika harus meninggalkan dunia aktual, dan butuh waktu untuk 100% bisa menerima dan menikmatinya. sekarang saya gagap ketika saya harus kembali, dan saya butuh waktu juga untuk bisa kembali menghayatinya.
"kembali ke komunitas lama", itu intinya.
ada rasa suka cita tak terhingga. meski jujur harus saya akui bahwa saya tetap butuh waktu untuk adaptasi dan menyesuaikan diri. hampir 6 tahun saya 'sembunyi'. sementara dalam waktu bersamaan orang2 sibuk dengan dunia aktual mereka. ya, saya butuh waktu untuk kembali. masa transisi pasti terjadi pada semua orang. maksudnya, semua orang pasti mengalami situasi transisi.
dulu saya gagap ketika harus meninggalkan dunia aktual, dan butuh waktu untuk 100% bisa menerima dan menikmatinya. sekarang saya gagap ketika saya harus kembali, dan saya butuh waktu juga untuk bisa kembali menghayatinya.
"mami, politik itu apa....???"

kemampuan anak2 (kembar ami-alit) membaca pada usia dini (4 th) tentu saja membanggakan bagi saya. lebih lagi ketika membaca menjadi kegemaran dan hobi mereka. kewajiban saya tentu saja menyiapkan bahan bacaan yang baik dan berkualitas. meski dalam satu hal saya mesti menyerah kalah: kalau diajak ke toko buku, anak2 pasti mencari plang "komik" yang tertera di atas rak2 buku, dan memilih sendiri beberapa judul komik dora emon. ya, komik dora emon menjadi buku kegemaran mereka. disamping buku2 yang lain yang hingga saat ini jumlahnya lebih dari 150 judul buku.
namun demikian, kemampuan dan kegemaran anak2 membaca pada usia yang masih pra TK kadang2 membuat saya kuatir. karena mereka tidak lantas hanya membaca buku2 mereka sendiri. ada buku2 saya, ada koran, ada TV yang syarat iklan, ada baliho2 dijalan yang cukup besar untuk dibaca sambil berkendara, dan masih banyak lagi sumber bacaan yang bisa mereka dapatkan. menjawab berbagai pertanyaan kata2 yang mereka tak tahu maksudnya menjadi hal yang niscaya saya lakukan.
"mami, pemilu itu apa?" tanya kakak suatu ketika.
saya mencoba menjelaskan dengan bahasa saya. tapi rupanya saya tak cukup mampu memberikan penjelasan yang bisa anak2 terima dengan kemampuan akal mereka.
"main pemilu2an aja dirumah", begitu kira2 saran bunda elisa ketika saya konsultasi.
dan klimaks jawaban saya atas pertanyaan itu saya sampaikan tanggal 9 April 2009. saya ajak anak2 ke TPS dekat rumah untuk melihat prosesi pemilu yang sebenarnya. setelah itu saya ajak anak2 keliling bandarlampung dan sekitarnya untuk melihat "pemilu".
"mami, kalau politik itu apa?", ini pertanyaan dilain waktu yang berbeda. jungkir balik saya mencari jawaban dengan bahasa yang tepat. namun saya gagal!!
"politik itu seperti PAN itu lo nak. kakak tahu PAN kan?"
"tahu. PAN itu Partai Amanat Nasional" jawab kakak.
"nah, PAN itu politik juga nak" kata saya mencoba menjelaskan.
"ooo...." (anak saya sok tahu kan hehe...)
"papi kan kerja di PAN, jadi kerja di politik juga", saya mulai bingung nih, tiba-tiba....
"politik itu kantor ya mi....", wakakakakak......
percakapan dilain kesempatan!
"mami, nobita itu kalau pulang kerumah kok bilangnya 'saya pulang' gitu, kok nggak 'assalamu'alaikum", tanya kakak.
"karena nobita itu orang jepang, jadi nggak bilang assalamu'alaikum nak" jawab saya.
"kalau kita orang indonesia ya?" adek ikut nimbrung nih.
"iya, tapi yang bilang assalamu'alaikum itu hanya orang Islam nak" jawab saya.
"orang Islam itu ngaji juga. shalat juga", kata kakak.
"iya" jawab saya
"oooo....", (ini memang khas jawaban anak2 sebagai tanda mereka tak akan bertanya lagi, meskipun mungkin mereka belum paham hehehe...)
dulu anak2 pernah bertanya apa itu gereja. saya jawab yang sebenarnya bahwa gereja itu tempat orang Kristen "berdoa". sama dengan kalau orang Islam shalat di Masjid.
"Kristen itu apa mi"
lalu saya jelaskan bahwa di Indonesia ini ada orang Islam, ada juga orang Kristen.
"Kristen itu rumahnya jauh?", hiks.......
Hari Bersejarah!!!
Sabtu, 21 Februari 2009
hari pertama berani mengendarai motor di jalan raya!
Bravo.....
Selamat datang kemandirian!!!!!
Hidup itu "sawang sinawang"
saya pernah menerima sms manis dari bunda elisa; "mami, berbahagialah bisa menemani ami-alit mengeksplorasi dunia". kalimat sederhana, tapi penuh maksa. betapa tidak, dulu saya pernah merasa menjadi perempuan paling tidak berguna ketika menyadari bahwa saya hanyalah perempuan yang tidak bekerja. perempuan yang menghabiskan waktunya dirumah bersama anak2 dan berbagai pekerjaan rumah tangga.
rasa iri terhadap teman2 yang mempunyai kesempatan bekerja diluar rumah jelas saja ada. bahkan sempat menggumpal menyesakkan dada. dimata saya yang tidak bekerja, teman2 saya itu pasti menjadi perempuan sempurna dan bahagia.
namun, jauh hari sebelum saya menerima sms dari bunda elisa tersebut saya sudah menyadari bahwa saya harus memaknai status saya dari sisi yang berbeda. "rumput dihalaman tetangga selalu tampak lebih subur dan hijau dari rumput di halaman sendiri".
hidup iti "sawang sinawang". filosofi ini yang kemudian saya bawa menemani keseharian dan langkah hidup saya. sejak itu hidup saya menjadi lebih ringan. rasa iri melihat teman2 yang berbahagia didunia kerjanya terobati dengan kebahagiaan saya bisa "menemani anak2 mengeksplorasi dunia". kesempatan yang tentu saja tak banyak dimiliki oleh perempuan bekerja. dan sms dari bunda elisa yang menyiratkan kegalauan dan kegelisahan seorang ibu bekerja semakin menyadarkan saya bahwa hidup memang "sawang sinawang". juga membuat saya semakin mensyukuri betapa beruntungnya saya memiliki suami yang begitu support dan menghargai profesi saya sebagai pekerja rumah tangga. juga kebahagiaan yang tak terhingga memiliki putri kembar yang tumbuh langsung dibawah pengawasan saya!!!!
rasa iri terhadap teman2 yang mempunyai kesempatan bekerja diluar rumah jelas saja ada. bahkan sempat menggumpal menyesakkan dada. dimata saya yang tidak bekerja, teman2 saya itu pasti menjadi perempuan sempurna dan bahagia.
namun, jauh hari sebelum saya menerima sms dari bunda elisa tersebut saya sudah menyadari bahwa saya harus memaknai status saya dari sisi yang berbeda. "rumput dihalaman tetangga selalu tampak lebih subur dan hijau dari rumput di halaman sendiri".
hidup iti "sawang sinawang". filosofi ini yang kemudian saya bawa menemani keseharian dan langkah hidup saya. sejak itu hidup saya menjadi lebih ringan. rasa iri melihat teman2 yang berbahagia didunia kerjanya terobati dengan kebahagiaan saya bisa "menemani anak2 mengeksplorasi dunia". kesempatan yang tentu saja tak banyak dimiliki oleh perempuan bekerja. dan sms dari bunda elisa yang menyiratkan kegalauan dan kegelisahan seorang ibu bekerja semakin menyadarkan saya bahwa hidup memang "sawang sinawang". juga membuat saya semakin mensyukuri betapa beruntungnya saya memiliki suami yang begitu support dan menghargai profesi saya sebagai pekerja rumah tangga. juga kebahagiaan yang tak terhingga memiliki putri kembar yang tumbuh langsung dibawah pengawasan saya!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)
