30 April 2009

Menetap dan Bermasyarakat

selain soal "kembalinya saya ke komunitas lama", kepindahan saya dan keluarga ke lampung juga menghadirkan pelajaran berharga soal problematika "hidup bermasyarakat".

masa kanak2 hingga remaja tentu saja tak bisa dipaksa untuk memaknai apa itu kehidupan bermasyarakat. karena seluruh urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak dilakukan dan diambil alih oleh orang tua. pada masa kuliahpun, saya masih tak bisa dipaksa untuk menyadari bahwa saya adalah bagian kecil dari masyarakat.
setelah menikah dan tinggal di jakarta, tak juga saya mendapatkan pelajaran soal kehidupan bermasyarakat. kalaupun ada tuntutan dari lingkungan, tak lebih dari sekedar senyum sapa basa basi dengan tetangga.

memantapkan diri menetap di lampung, memaksa saya untuk lebih memahami makna hakiki dari kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. bagaimana saya mampu memantapkan hati untuk menyatu dan berbaur dengan komunitas masyarakat yang tak sedikit jumlahnya. menghadiri undangan pesta, ikut arisan, ikut pengajian, senam, dll adalah bukti nyata komitmen dan itikad baik saya sebagai bagian dari anggota masyarakat.

Waktunya telah Tiba....

kepindahan saya dan keluarga ke lampung nopember 2008, memberi warna baru dalam kehidupan pribadi saya. warna baru yang sesungguhnya tak murni baru.
"kembali ke komunitas lama", itu intinya.

ada rasa suka cita tak terhingga. meski jujur harus saya akui bahwa saya tetap butuh waktu untuk adaptasi dan menyesuaikan diri. hampir 6 tahun saya 'sembunyi'. sementara dalam waktu bersamaan orang2 sibuk dengan dunia aktual mereka. ya, saya butuh waktu untuk kembali. masa transisi pasti terjadi pada semua orang. maksudnya, semua orang pasti mengalami situasi transisi.

dulu saya gagap ketika harus meninggalkan dunia aktual, dan butuh waktu untuk 100% bisa menerima dan menikmatinya. sekarang saya gagap ketika saya harus kembali, dan saya butuh waktu juga untuk bisa kembali menghayatinya.

"mami, politik itu apa....???"


kemampuan anak2 (kembar ami-alit) membaca pada usia dini (4 th) tentu saja membanggakan bagi saya. lebih lagi ketika membaca menjadi kegemaran dan hobi mereka. kewajiban saya tentu saja menyiapkan bahan bacaan yang baik dan berkualitas. meski dalam satu hal saya mesti menyerah kalah: kalau diajak ke toko buku, anak2 pasti mencari plang "komik" yang tertera di atas rak2 buku, dan memilih sendiri beberapa judul komik dora emon. ya, komik dora emon menjadi buku kegemaran mereka. disamping buku2 yang lain yang hingga saat ini jumlahnya lebih dari 150 judul buku.

namun demikian, kemampuan dan kegemaran anak2 membaca pada usia yang masih pra TK kadang2 membuat saya kuatir. karena mereka tidak lantas hanya membaca buku2 mereka sendiri. ada buku2 saya, ada koran, ada TV yang syarat iklan, ada baliho2 dijalan yang cukup besar untuk dibaca sambil berkendara, dan masih banyak lagi sumber bacaan yang bisa mereka dapatkan. menjawab berbagai pertanyaan kata2 yang mereka tak tahu maksudnya menjadi hal yang niscaya saya lakukan.

"mami, pemilu itu apa?" tanya kakak suatu ketika.
saya mencoba menjelaskan dengan bahasa saya. tapi rupanya saya tak cukup mampu memberikan penjelasan yang bisa anak2 terima dengan kemampuan akal mereka.
"main pemilu2an aja dirumah", begitu kira2 saran bunda elisa ketika saya konsultasi.
dan klimaks jawaban saya atas pertanyaan itu saya sampaikan tanggal 9 April 2009. saya ajak anak2 ke TPS dekat rumah untuk melihat prosesi pemilu yang sebenarnya. setelah itu saya ajak anak2 keliling bandarlampung dan sekitarnya untuk melihat "pemilu".

"mami, kalau politik itu apa?", ini pertanyaan dilain waktu yang berbeda. jungkir balik saya mencari jawaban dengan bahasa yang tepat. namun saya gagal!!
"politik itu seperti PAN itu lo nak. kakak tahu PAN kan?"
"tahu. PAN itu Partai Amanat Nasional" jawab kakak.
"nah, PAN itu politik juga nak" kata saya mencoba menjelaskan.
"ooo...." (anak saya sok tahu kan hehe...)
"papi kan kerja di PAN, jadi kerja di politik juga", saya mulai bingung nih, tiba-tiba....
"politik itu kantor ya mi....", wakakakakak......

percakapan dilain kesempatan!
"mami, nobita itu kalau pulang kerumah kok bilangnya 'saya pulang' gitu, kok nggak 'assalamu'alaikum", tanya kakak.
"karena nobita itu orang jepang, jadi nggak bilang assalamu'alaikum nak" jawab saya.
"kalau kita orang indonesia ya?" adek ikut nimbrung nih.
"iya, tapi yang bilang assalamu'alaikum itu hanya orang Islam nak" jawab saya.
"orang Islam itu ngaji juga. shalat juga", kata kakak.
"iya" jawab saya
"oooo....", (ini memang khas jawaban anak2 sebagai tanda mereka tak akan bertanya lagi, meskipun mungkin mereka belum paham hehehe...)

dulu anak2 pernah bertanya apa itu gereja. saya jawab yang sebenarnya bahwa gereja itu tempat orang Kristen "berdoa". sama dengan kalau orang Islam shalat di Masjid.
"Kristen itu apa mi"
lalu saya jelaskan bahwa di Indonesia ini ada orang Islam, ada juga orang Kristen.
"Kristen itu rumahnya jauh?", hiks.......

Hari Bersejarah!!!

Sabtu, 21 Februari 2009
hari pertama berani mengendarai motor di jalan raya!
Bravo.....
Selamat datang kemandirian!!!!!

Hidup itu "sawang sinawang"

saya pernah menerima sms manis dari bunda elisa; "mami, berbahagialah bisa menemani ami-alit mengeksplorasi dunia". kalimat sederhana, tapi penuh maksa. betapa tidak, dulu saya pernah merasa menjadi perempuan paling tidak berguna ketika menyadari bahwa saya hanyalah perempuan yang tidak bekerja. perempuan yang menghabiskan waktunya dirumah bersama anak2 dan berbagai pekerjaan rumah tangga.

rasa iri terhadap teman2 yang mempunyai kesempatan bekerja diluar rumah jelas saja ada. bahkan sempat menggumpal menyesakkan dada. dimata saya yang tidak bekerja, teman2 saya itu pasti menjadi perempuan sempurna dan bahagia.

namun, jauh hari sebelum saya menerima sms dari bunda elisa tersebut saya sudah menyadari bahwa saya harus memaknai status saya dari sisi yang berbeda. "rumput dihalaman tetangga selalu tampak lebih subur dan hijau dari rumput di halaman sendiri".

hidup iti "sawang sinawang". filosofi ini yang kemudian saya bawa menemani keseharian dan langkah hidup saya. sejak itu hidup saya menjadi lebih ringan. rasa iri melihat teman2 yang berbahagia didunia kerjanya terobati dengan kebahagiaan saya bisa "menemani anak2 mengeksplorasi dunia". kesempatan yang tentu saja tak banyak dimiliki oleh perempuan bekerja. dan sms dari bunda elisa yang menyiratkan kegalauan dan kegelisahan seorang ibu bekerja semakin menyadarkan saya bahwa hidup memang "sawang sinawang". juga membuat saya semakin mensyukuri betapa beruntungnya saya memiliki suami yang begitu support dan menghargai profesi saya sebagai pekerja rumah tangga. juga kebahagiaan yang tak terhingga memiliki putri kembar yang tumbuh langsung dibawah pengawasan saya!!!!