30 April 2009

Hidup itu "sawang sinawang"

saya pernah menerima sms manis dari bunda elisa; "mami, berbahagialah bisa menemani ami-alit mengeksplorasi dunia". kalimat sederhana, tapi penuh maksa. betapa tidak, dulu saya pernah merasa menjadi perempuan paling tidak berguna ketika menyadari bahwa saya hanyalah perempuan yang tidak bekerja. perempuan yang menghabiskan waktunya dirumah bersama anak2 dan berbagai pekerjaan rumah tangga.

rasa iri terhadap teman2 yang mempunyai kesempatan bekerja diluar rumah jelas saja ada. bahkan sempat menggumpal menyesakkan dada. dimata saya yang tidak bekerja, teman2 saya itu pasti menjadi perempuan sempurna dan bahagia.

namun, jauh hari sebelum saya menerima sms dari bunda elisa tersebut saya sudah menyadari bahwa saya harus memaknai status saya dari sisi yang berbeda. "rumput dihalaman tetangga selalu tampak lebih subur dan hijau dari rumput di halaman sendiri".

hidup iti "sawang sinawang". filosofi ini yang kemudian saya bawa menemani keseharian dan langkah hidup saya. sejak itu hidup saya menjadi lebih ringan. rasa iri melihat teman2 yang berbahagia didunia kerjanya terobati dengan kebahagiaan saya bisa "menemani anak2 mengeksplorasi dunia". kesempatan yang tentu saja tak banyak dimiliki oleh perempuan bekerja. dan sms dari bunda elisa yang menyiratkan kegalauan dan kegelisahan seorang ibu bekerja semakin menyadarkan saya bahwa hidup memang "sawang sinawang". juga membuat saya semakin mensyukuri betapa beruntungnya saya memiliki suami yang begitu support dan menghargai profesi saya sebagai pekerja rumah tangga. juga kebahagiaan yang tak terhingga memiliki putri kembar yang tumbuh langsung dibawah pengawasan saya!!!!