07 Juni 2012

Variasi Bekal Sekolah...

Bekal Sekolah? waahhh...pusing deehhh...harus tak basah apalagi berkuah, alias harus kering. dan...harus variatif, berganti ganti setiap hari. hmmm...harus kreatif doongg...

untungnya, Samiha dan Talitha sekolah di tempat yang memiliki fasilitas lumayan. ada fasilitas abodemen sekolah. ada juga fasilitas katering snack (berupa kue dan atau susu kedelai) dan  makan siang kerjasama sekolah dengan rumah makan ternama. alhasil, saya tak lagi harus repot-repot antar jemput anak-anak sekolah. serta tak harus repot menyiapkan bekal snack dan makan siang. itu artinya, sebagian beban saya berkaitan dengan sekolah anak-anak sudah teratasi...

masalah muncul beberapa hari ini. tepatnya sejak awal bulan juni. mungkin dengan pertimbangan 'tanggung' karena bulan ini tidak full sekolah, katering snack dan makan siang sudah di stop alias dihentikan. hmmm...mulai deh, tiap hari harus hunting bahan makanan untuk pagi hari (sarapan sebelum berangkat sekolah), makan siang (bekal sekolah) dan makan sore. semuanya harus lebih dulu didiskusikan dengan anak-anak. meskipun kadang-kadang kalau terpaksa bahan makanannya gak ada, yaa pinter-pinter saya mengarahkan ke 'apa yang ada aja ya nak' hehe...

yang lucu kejadian hari senin, 4 juni. saya benar-benar lupa kalau hari itu hari pertama anak-anak tidak mendapatkan katering makan siang. sesampai dirumah, anak-anak teriak-teriak 'lapeeerrrr...' kebetulan saya belum menyiapkan makan siang karena yang ada di kepala saya ya masaknya nanti buat makan sore. pikir saya, waduuh...kok anak-anak hari gini sudah kelaperan ya.. saya masih santai saja tuh. selidik punya selidik ternyata baru inget kalau hari itu ga ada katering makan siang. hahah...ceplok telur deehh...

diskusi dengan anak-anak soal menu makan menjadi moment yang istimewa buat saya. satu-satunya kelemahan saya adalah saya paling males kalau anak-anak minta menu yang berbeda. jika sudah begitu, maka dengan sedikit 'memaksa' saya sarankan anak-anak untuk kompromi. atau kalau tidak yang satu buat siang yang satu buat sore...deal?

kreatifitas sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak. saya beruntung karena anak-anak saya tidak termasuk 'pemilih' makanan. apa saja mau. sehingga di frezzer selalu tersedia berbagai bahan makanan dari mulai berbagai macam ikan, cumi, udang, daging ayam kampung (bukan ayam kota lho), daging sapi, bakso, nugget, sossis. dibuat menjadi apapun asal gak pedes anak-anak pasti mau. di goreng biasa, goreng tepung, bakar, pepes, pindang, atau di sop. semuanya mau. kalau udang dan cumi sukanya di goreng tepung. 'buatan mami istimewa' katanya hehe...ikan sarden atau mackerel kalengan pun kalau yang masak mami pasti jadi sangat istimewa. telur bebek, telur ayam kampung, telur puyuh semuanya okeh...

sayuran apapun anak2 juga mau. alhamdulillah banget pokoknya. kemaren talitha minta 'kembang kol di goreng tepung ya mi'. oke deh... samiha minta 'sayur asem yang banyak kacang tanah sama labunya mi'. oke juga...talitha nyahut 'kan udah lama ga masak labu di sayur bening mi. hmmm..enaakkk'.  kuncinya harus sabar. karena kadang-kadang anak-anak itu ada masa-masanya kolokan dan manja. ujung-ujungnya 'ya udah telur dadar ajja' hahahha... 

sekedar untuk perbandingan, saya suka tanya sama anak-anak apa bekal teman-temannya. 'yang hebat itu endis lho mi. tiiaapp hari bekalnya mie' hahaha...bisa dibayangin dong betapa memang susah ngurusin anak-anak. bisa jadi bundanya endis memang sangat sibuk. sampai gak ada waktu buat mikirin bekal sekolah. bisa jadi juga memang endisnya yang gak mau makan selain mie. subhanallah...alangkah bersyukurnya saya mempunyai anak-anak yang cerdas gizi sejak kecil...'naya mi, bekalnya itu enak-enak lho mi. ganti-ganti tiap hari. tapi yang paling sering pizza mie'. 

selama satu minggu harus menyiapkan bekal sekolah, saya cukup merasakan betapa saya harus berpikir keras. apalagi prosesnya harus melibatkan anak-anak. hmmm...salut buat bunda-bunda yang harus menyiapkan bekal makan siang setiap hari...meskipun hanya mie, mie dan mie hehehe...

Hari Terakhir UAS

Kebijakan pemerintah tentang ujian, baik Ujian Tengah Semester (UTS), Ujian Akhir Semester (UAS), maupun Ujian Nasional (UN), ternyata tidak hanya membuat stress murid-murid, tapi juga membuat stress para orang tua. Betapa tidak, hanya UTS saja, anak-anak dikondisikan sedemikian rupa oleh guru-gurunya untuk 'dengan serius' mengulang pelajaran dirumah. Apalagi UAS, bahkan lagi UN. Dan orang tua menjadi pihak yang ikut bertanggungjawab atas berhasil tidaknya anak-anak mereka menjalani ujian-ujian tersebut. Oleh karena itu, menghadapi berbagai ujian, bukan hanya anak-anak yang sibuk mempersiapkan diri dengan belajar belajar dan belajar, orang tuapun menjadi kalang kabut memantau aktifitas belajar anak-anaknya. Kerja sama tim yang sangat luar biasa bukan???

Besok, hari terakhir Samiha dan Talitha UAS. Lega. Paling tidak itu yang saya rasakan malam ini. Meskipun selama UAS tidak juga saya memaksa anak-anak untuk belajar belajar dan terus belajar. Berbulan-bulan belajar di sekolah setiap hari saya rasa sangat cukup untuk anak-anak mengingat seluruh pelajaran yang demikian berat dan padat. Kalaupun belajar, paling paling saya hanya mengajak anak-anak mengulang sekilas sekilas. Itupun, rasanya sudah sangat merasa bersalah. Kasihan anak-anak. Apalagi, kalau denger Talitha bilang "mami, tadi ngerjain soal susaaahhh bener. Kepalaku sampe mau pecah". Meski saya yakin, ya ga sampe segitunyalah...masak iya sampai kepala mau pecah hehehe...

Satu hal yang saya syukuri, alhamdulillah Samiha dan Talitha sehat wal afiat selama UAS berlangsung. Doa agar anak-anak sehatlah yang selalu saya panjatkan. Karena saya yakin anak-anak saya mampu menjawab soal-soal UAS meski tanpa harus belajar dengan 'sangat keras' selama UAS berlangsung. Apalagi jika anak-anak dalam keadaan sehat dan prima. Dan, sungguh luar biasa, hasil UAS Samiha untuk beberapa mata pelajaran yang sudah dibagikan begitu cemerlang (yang belum dibagikan Bahasa Inggris).

Matematika 100, PAI 98, PKn 90, Bahasa Indonesia 100, Bahasa Lampung 100, SBK 100, IPS 100, Aqidah Akhlaq 100, Siroh Nabawiyah (Sejarah Islam) 100, Bahasa Arab 100. Seluruh mata pelajaran terdiri dari 20 soal pilihan ganda (a,b,c) dan 10 soal essai.

Sayangnya, hasil ujian Talitha belum dibagikan...

Diatas segalanya, ujian-ujian yang akan terus, terus dan terus terjadi selama anak-anak masih mengenyam pendidikan formal, mestinya dihadapi dengan bijaksana. Menghadapi anak kelas 1 Sekolah Dasar (SD), kebijaksanaan tentunya milik orang tua. Milik saya. Maka, sudah betul ketika selama ujian berlangsung, saya tidak pernah memaksakan anak-anak saya untuk mengulang pelajaran untuk esok hari disaat anak-anak saya sudah capek sepulang ujian pada hari berjalan....

30 Mei 2012

Ketika Hanya Samiha yang Juara...

lagi-lagi saya dikejutkan oleh 'kedewasaan' anak saya menghadapi masalah.

Gebyar Lomba SDIT Baitul Jannah. lomba antar kelas. Samiha dan Talitha, bersama kawan-kawan lainnya, mewakili kelas masing-masing mengikuti lomba tahfidz. Surah an-Naas sampai al-Zalzalah. 

ketika pengumuman lomba, Samiha dinyatakan Juara 2, mendapatkan piala+hadiah, sedangkan Talitha tidak. padahal, kaitannya dengan hafalan, keduanya sama-sama bagus. bahkan kalau bicara makhraj, Talitha justru lebih bagus. kelemahannya mungkin hanya di suara. Talitha mengaku suaranya tidak keras ketika mengikuti lomba.

tentu saja saya deg-degan. khawatir kalau Talitha down karena kegagalannya. apalagi piala ini ini menjadi piala perdana dalam sejarah kehidupan kedua anak kembar saya. 

dalam perjalanan pulang, (mudah-mudahan tidak dalam rangka menghibur diri sendiri), Talitha tiba-tiba bilang "tapi aku nggak iri kok mi walaupun kakak dapat piala". 

subhanallah... saya acungi jempol dua buat Talitah. saya besarkan hatinya. bahwa kekalahannya bukan karena tidak lebih hebat hafalannya, tapi hanya karena suaranya yang kurang keras.

"leher aku ini kecil mi, makanya aku ga bisa suara keras". saya tertawa ngakak, karena Talitha ngomong begitu sambil teriak...



Gigi Oh Gigi...

gigi Samiha tumbuh 'agak' berantakan. padahal...saya sudah cukup sangat perhatian dengan perkembangannya. indikatornya, gigi susu tanggal jauh hari sebelum gigi tetapnya muncul. artinya, ya ompong duluan lumayan lama sebelum akhirnya gigi tetapnya tumbuh. nah, pas tumbuh kok ya masih 'agak' berantakan...

ada apa ini...???


terjawab kemaren ketika ke dokter gigi. 


kata dokter gigi, hal itu bisa terjadi jika struktur rahang kecil sementara struktur gigi besar-besar. sehingga gigi yang tumbuh belakangan ga kebagian tempat. alhasil, tumbuhnya miring-miring dan menjadi 'agak' berantakan. 


sedikit melegakan ketika berpikir teknologi kesehatan gigi yang begitu pesat. gigi berantakan, bahkan gigi nongolpun sekarang bisa 'dimodifikasi' menjadi lebih rapi dan lebih tersembunyi. tapi kan itu butuh proses. agak nanti, dan tentu saja lumayan sakit. galau saya dibuatnya. sampai-sampai saya tidak sadar bahwa kegalauan saya membuat Samiha tertekan. 


subhanallah....mami macam apa saya? 


harusnya saya bisa lebih tenang. harusnya saya bisa membesarkan hati Samiha sehingga Samiha tetap dalam puncak kepercayaan dirinya. bukannya sebaliknya, dengan sengaja bilang "ya Allah naaakkk...kenapa sih gigimu bisa berantakan gini. maju mundur kayak orang baris". 


astaghfirullah...maafkan mami ya nak....


saya yakin bahwa saya belum terlambat untuk menyadari kekeliruan saya. masih banyak kesempatan untuk membesarkan hatinya. masih banyak contoh orang-orang yang giginya berantakan ternyata masih kelihatan anggun dan cantik...


lebih yakin lagi ketika Samiha bilang "ga papa kok mi, ini kan pemberian Allah".


MasyaAllah, Allahu Akbar...besar sekali hatimu nak...


terimakasih ya Allah, Tuhan saya yang Maha Tunggal...


22 Februari 2012

Dibutuhkan Kedewasaan dan Kearifan...

situasi telah berubah. kebersamaan saya dengan anak-anak yang dulu 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, sekarang hanya tersisa dalam ingatan. saya telah menjelma menjadi perempuan bekerja. anak-anak sudah pula menjelma menjadi murid kelas 1 sekolah dasar (SD). saya harus pergi dari rumah jam 5 subuh ketika anak-anak masih tertidur pulas. untungnya, saya bisa sampai rumah jam 3 sore ketika anak-anak masih belum pulang sekolah. sehingga saya bisa menyambut anak-anak ketika mereka sampai di rumah. inilah waktu yang tersisa, yang terasa begitu berharga...

menjadi orang tua dari anak2 yang semakin besar tentu saja membutuhkan kedewasaan dan kearifan. kedewasaan dan kearifan dalam menyikapi berbagai persoalan yang seringkali diluar dugaan. dulu, gambaran saya tentang anak2 yang sudah masuk SD hanya sebatas keharusan saya membimbing mereka memahami materi pelajaran. ternyata, kenyataannya tidak sesederhana itu. tentang materi pelajaran, saya bersyukur anak2 saya tumbuh menjadi anak2 yang pintar. kalaupun membutuhkan bimbingan, saya tidak harus bersusah payah hanya untuk menjadikannya bisa memahami suatu materi. yang justru menjadi pekerjaan berat adalah membimbing anak2 menjadi anak2 berpribadi baik. mendidik anak2 menjadi anak2 yang jujur. mengarahkan anak2 menjadi anak2 yang rendah hati dan pemaaf.

hampir setiap hari saya menyambut anak2 dengan beragam cerita. terkadang juga rengekan dan keluh kesah. menghadapi situasi ini, kadang-kadang saya harus berpikir keras untuk memberikan jawaban dan solusi yang mendewasakan. saya tidak ingin terkesan memanjakan dan selalu membenarkan opini anak2 tentang kawan2 mereka. apalagi saya tidak tau apa yang terjadi sesungguhnya. "mami, zahra itu egois banget lho mi. dia itu nggak mau kalo dia kalah dari aku". perspektif anak2 tentang makna egois mungkin saja berbeda dengan perspektif saya sebagai orang dewasa. maka, saya harus arif. saya tidak boleh terlalu membela anak2 saya, tidak pula boleh terlihat memojokkan kawannya. saya selalu mengarahkan anak2 saya untuk menjadi dirinya sendiri. menjadi pribadi yang tangguh. pribadi yang tidak mudah terpengaruh. tapi, tentu saja itu bukan pekerjaan mudah. sekali waktu saya begitu bangga mendapati anak saya mengatakan "mami, tadi karima ngajakin aku musuhin ocha, tapi aku nggak mau karna ocha kan nggak salah". waktu yang lain saya terpaksa harus mengelus dada ketika anak saya bilang "mami, aku tadi main sampai jauh. aku sudah bilang nggak mau, tapi alika paksa2 aku".

pertemanan ala anak SD memang terkadang unik dan menarik. pertemanan yang pasang surut. membutuhkan kedewasaan dan kearifan orang tua untuk menjadikan masalah yang muncul menjadi media pembelajaran bagi anak2.