22 Februari 2012

Dibutuhkan Kedewasaan dan Kearifan...

situasi telah berubah. kebersamaan saya dengan anak-anak yang dulu 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, sekarang hanya tersisa dalam ingatan. saya telah menjelma menjadi perempuan bekerja. anak-anak sudah pula menjelma menjadi murid kelas 1 sekolah dasar (SD). saya harus pergi dari rumah jam 5 subuh ketika anak-anak masih tertidur pulas. untungnya, saya bisa sampai rumah jam 3 sore ketika anak-anak masih belum pulang sekolah. sehingga saya bisa menyambut anak-anak ketika mereka sampai di rumah. inilah waktu yang tersisa, yang terasa begitu berharga...

menjadi orang tua dari anak2 yang semakin besar tentu saja membutuhkan kedewasaan dan kearifan. kedewasaan dan kearifan dalam menyikapi berbagai persoalan yang seringkali diluar dugaan. dulu, gambaran saya tentang anak2 yang sudah masuk SD hanya sebatas keharusan saya membimbing mereka memahami materi pelajaran. ternyata, kenyataannya tidak sesederhana itu. tentang materi pelajaran, saya bersyukur anak2 saya tumbuh menjadi anak2 yang pintar. kalaupun membutuhkan bimbingan, saya tidak harus bersusah payah hanya untuk menjadikannya bisa memahami suatu materi. yang justru menjadi pekerjaan berat adalah membimbing anak2 menjadi anak2 berpribadi baik. mendidik anak2 menjadi anak2 yang jujur. mengarahkan anak2 menjadi anak2 yang rendah hati dan pemaaf.

hampir setiap hari saya menyambut anak2 dengan beragam cerita. terkadang juga rengekan dan keluh kesah. menghadapi situasi ini, kadang-kadang saya harus berpikir keras untuk memberikan jawaban dan solusi yang mendewasakan. saya tidak ingin terkesan memanjakan dan selalu membenarkan opini anak2 tentang kawan2 mereka. apalagi saya tidak tau apa yang terjadi sesungguhnya. "mami, zahra itu egois banget lho mi. dia itu nggak mau kalo dia kalah dari aku". perspektif anak2 tentang makna egois mungkin saja berbeda dengan perspektif saya sebagai orang dewasa. maka, saya harus arif. saya tidak boleh terlalu membela anak2 saya, tidak pula boleh terlihat memojokkan kawannya. saya selalu mengarahkan anak2 saya untuk menjadi dirinya sendiri. menjadi pribadi yang tangguh. pribadi yang tidak mudah terpengaruh. tapi, tentu saja itu bukan pekerjaan mudah. sekali waktu saya begitu bangga mendapati anak saya mengatakan "mami, tadi karima ngajakin aku musuhin ocha, tapi aku nggak mau karna ocha kan nggak salah". waktu yang lain saya terpaksa harus mengelus dada ketika anak saya bilang "mami, aku tadi main sampai jauh. aku sudah bilang nggak mau, tapi alika paksa2 aku".

pertemanan ala anak SD memang terkadang unik dan menarik. pertemanan yang pasang surut. membutuhkan kedewasaan dan kearifan orang tua untuk menjadikan masalah yang muncul menjadi media pembelajaran bagi anak2.