selain soal "kembalinya saya ke komunitas lama", kepindahan saya dan keluarga ke lampung juga menghadirkan pelajaran berharga soal problematika "hidup bermasyarakat".
masa kanak2 hingga remaja tentu saja tak bisa dipaksa untuk memaknai apa itu kehidupan bermasyarakat. karena seluruh urusan yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak dilakukan dan diambil alih oleh orang tua. pada masa kuliahpun, saya masih tak bisa dipaksa untuk menyadari bahwa saya adalah bagian kecil dari masyarakat.
setelah menikah dan tinggal di jakarta, tak juga saya mendapatkan pelajaran soal kehidupan bermasyarakat. kalaupun ada tuntutan dari lingkungan, tak lebih dari sekedar senyum sapa basa basi dengan tetangga.
memantapkan diri menetap di lampung, memaksa saya untuk lebih memahami makna hakiki dari kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. bagaimana saya mampu memantapkan hati untuk menyatu dan berbaur dengan komunitas masyarakat yang tak sedikit jumlahnya. menghadiri undangan pesta, ikut arisan, ikut pengajian, senam, dll adalah bukti nyata komitmen dan itikad baik saya sebagai bagian dari anggota masyarakat.