seingat saya, terakhir anak2 sakit adalah bulan Oktober 2008. saya bahagia sekali anak2 tumbuh menjadi anak2 yang sehat dan kuat. bahkan, Nopember ketika rumah berantakan dan debu beterbangan karena proses packing menjelang pindahan ke lampung, anak2 tetap survaiv. tetap sehat dan segar. hingga pindahan dan menempati rumah baru yang juga sangat berdebu karna 2 tahun tak ditempatipun, mereka tetap survaiv. subhanallaaah......
minggu kemaren, mbak sari yang KO. Flu. saya pasrah kalaupun misalnya anak2 akan tertular. toh sudah lama sekali tidak sakit, begitu batin saya. nah, ketika adek tiba2 badannya hangat, lalu perlahan merangkak menjadi sedikit panas, saya menenangkan diri dengan mengatakan "ga papa. memang waktunya sakit".
pertolongan pertama, tentu saja Tempra yang selalu siap sedia di kotak obat. pelajaran buat ibu2, tua maupun muda, selalu siapkan obat2 kategori P3K dirumah. misalnya, obat turun panas plus termometernya, alkohol+betadin+kassa+plester, thrombopop untuk luka memar atau benjol, dan bio placenton untuk luka bakar.
kembali ke soal adek, alhamdulillah panas tak berlanjut, tapi esoknya tiba2 hangat lagi diiringi pilek dan batuk. wah, tak bisa tidak, harus segera dibawa berobat sebelum menjadi2 batuk dan pileknya.
Puskesmas!!
lho, kok puskesmas? mungkin orang2 akan bertanya begitu. bagi banyak orang, puskesmas memang tidak menjadi pilihan untuk mengatasi masalah kesehatan, apalagi untuk anak2. bagi saya, kenapa puskesmas, bukan dokter spesialis, adalah soal pilihan. ya, ini soal pilihan. yang bukan semata2 dilatarbelakangi soal biaya yang hanya 2500 perak sekali datang. karena soal biaya, siapapun orangnya, semahal apapun, pasti dijalani demi anak. saya hanya menggunakan logika "kalau di puskesmas saja sembuh, kenapa mesti dibawa ke dokter spesialis?". ini benar2 pilihan sadar saya soal solusi kesehatan bagi keluarga saya. dan alhamdulillah, hingga anak2 menjelang usia 5 tahun, bisa dihitung dengan jari anak2 saya bertemu dengan dokter spesialis anak. itu terjadi kalau diagnosa dan pengobatan puskesmas tidak membuahkan hasil setelah 2 kali kunjungan, atau memang direkomendasi oleh dokter puskesmas untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
apalagi, puskesmas juga punya standart pengobatan yang terstruktur dan terkontrol dengan baik. misalnya, pada kunjungan pertama, jika belum perlu diberikan anti biotik ya tidak diberikan anti biotik. atau untuk mendiagnosa demam misalnya, jika demamnya sdh 3 hari langsung diminta untuk tes laboratorium, baru kemudian didiagnosa apa penyebab demamnya.
salah satu dari sedikit kasus yang dokter puskesmas salah diagnosa adalah ketika anak2 bermasalah dengan kulit disekitar pahanya. kasar, putih2, dan menyebar. tapi tak gatal. dokter puskesmas memastikan bahwa itu adalah jamur. dan dilihat dari indikasinya, memang pas jika disebut jamur. karena wujudnya hampir sama mirip dengan panu. sampai salepnya habis tak juga membaik. akhirnya atas rekomendasi teman, saya datang ke dr. Tumpal, Sp. A. di RS Yadika pondok Bambu. dengan sangat meyakinkan, dr. Tumpal mengatakan bahwa itu bukan jamur. melainkan alergi. lalu saya disarankan untuk menjauhkan anak2 dari semua jenis makanan instan. menurut beliau, makanan instan itu "semua jenis makanan buatan pabrik". selain itu saya juga diminta untuk stop sementara semua jenis hasil laut dan produk olahannya. ayam hanya boleh jika ayam kampung. telur juga harus telur kampung. ikan air tawar hanya boleh ikan yang organik tak makan pelet. selain itu saya juga dibekali salep dan pelembab.
saya pulang dengan pikiran bahwa beberapa waktu kedepan, anak2 saya akan saya jadikan vegetarian! dan benar saja, belum sebulan, masalah kulit anak2 benar2 teratasi. kulit anak2 mulus kembali.
akan tetapi, pengalaman itu tak lantas membuat saya apriori dengan dokter puskesmas, dan menjadi fanatik dengan dokter spesialis. menurut saya itu hanya faktor kebetulan. karena jauh hari sebelum kejadian itu, saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan dokter spesialis.
ceritanya anak2 bermasalah dengan kulit pantatnya. ruam2 merah, gatal, berpindah2 seperti berjalan. melihat indikasinya, dokter puskesmas curiga itu adalah cacing. lalu saya diminta untuk membeli dan meminumkan satu jenis abat cacing yang kebetulan tak tersedia di apotik puskesmas. saya menurut saja karena memang seumur2 anak2 belum pernah saya minumin obat cacing. tapi sayang, tetap saja tak ada perubahan. bahkan ruamnya semakin leluasa berjalan2.
ditengah kepanikan, saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit di RS Harum Kalimalang.
"ah, tidak apa2. hanya infeksi ringan. ini saya kasih salep", kata si dokter spesialis kulit dengan pede-nya.
"kalau tidak sembuh juga dok", saya tetap merasa tak yakin.
"sembuh", kata dokter kembali meyakinkan.
"masalahnya saya mau pulang kampung ni dok", kata saya lagi.
"sudah ga papa. sembuh...sembuh...", wih pede banget dokternya.
akhirnya saya dan suami saya pulang dengan keyakinan bahwa masalah kulit pantat ini pasti terselesaikan. tapi sayang seribu sayang. hingga kami tiba di kampung dan road show keliling silaturrahmi dalam rangka lebaran, masalah tetap belum terselesaikan. tentu saja saya frustasi. apalagi ruam punya kakak sudah berjalan mendekati pinggir anus. dan ruam punya adek berada di daerah pinggir vagina.
dalam kekalutan, ketika kami sekeluarga silaturrahmi ke rumah Pakde Humam yang Mantri Puskesmas, saya mendapatkan diagnosa yang mengejutkan!
"ini cacing. kalau orang desa bilangnya cacing pasir. dia jalan terus kan?", tanya Pakde Humam.
"iya pakde. kata dokter puskesmas di jakarta memang indikasinya mengarah ke cacing. trus sudah diminumin obat cacing, tapi kok ga sembuh", kata saya menjelaskan.
"ya nggak ngaruh. obat cacing yang diminum kan untuk cacing yang di perut", bantah pakde Humam.
"iya juga ya?", kata saya sedikit malu. "trus gimana dong pakde", kata saya lagi.
"gampang. bisa dengan cara medis. disemprot. ada alat dan obatnya. tapi mahal. kalau mau cara yang murah bisa di kompres dengan es batu", terang pakde.
masuk akal juga, apalagi cacing itu didalam kulit tapi diluar daging.
"kompres esnya sehari berapa kali pakde?", tanya saya.
"2 kali boleh. 5 - 10 menit saja. ga sampai 10 hari cacingnya pasti sudah mati", pakde mantri meyakinkan.
hari itu juga saya kompres ruamnya dengan es batu. esoknya ketika pulang kerumah mbah di sukadana, di kompres lagi. dan.... subhanallah......baru 2 kali kompres, cacingnya sudah layu, kemudian mati.
ternyata, dokter spesialis tak selalu lebih hebat dari mantri puskesmas kan?
minggu kemaren, mbak sari yang KO. Flu. saya pasrah kalaupun misalnya anak2 akan tertular. toh sudah lama sekali tidak sakit, begitu batin saya. nah, ketika adek tiba2 badannya hangat, lalu perlahan merangkak menjadi sedikit panas, saya menenangkan diri dengan mengatakan "ga papa. memang waktunya sakit".
pertolongan pertama, tentu saja Tempra yang selalu siap sedia di kotak obat. pelajaran buat ibu2, tua maupun muda, selalu siapkan obat2 kategori P3K dirumah. misalnya, obat turun panas plus termometernya, alkohol+betadin+kassa+plester, thrombopop untuk luka memar atau benjol, dan bio placenton untuk luka bakar.
kembali ke soal adek, alhamdulillah panas tak berlanjut, tapi esoknya tiba2 hangat lagi diiringi pilek dan batuk. wah, tak bisa tidak, harus segera dibawa berobat sebelum menjadi2 batuk dan pileknya.
Puskesmas!!
lho, kok puskesmas? mungkin orang2 akan bertanya begitu. bagi banyak orang, puskesmas memang tidak menjadi pilihan untuk mengatasi masalah kesehatan, apalagi untuk anak2. bagi saya, kenapa puskesmas, bukan dokter spesialis, adalah soal pilihan. ya, ini soal pilihan. yang bukan semata2 dilatarbelakangi soal biaya yang hanya 2500 perak sekali datang. karena soal biaya, siapapun orangnya, semahal apapun, pasti dijalani demi anak. saya hanya menggunakan logika "kalau di puskesmas saja sembuh, kenapa mesti dibawa ke dokter spesialis?". ini benar2 pilihan sadar saya soal solusi kesehatan bagi keluarga saya. dan alhamdulillah, hingga anak2 menjelang usia 5 tahun, bisa dihitung dengan jari anak2 saya bertemu dengan dokter spesialis anak. itu terjadi kalau diagnosa dan pengobatan puskesmas tidak membuahkan hasil setelah 2 kali kunjungan, atau memang direkomendasi oleh dokter puskesmas untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis.
apalagi, puskesmas juga punya standart pengobatan yang terstruktur dan terkontrol dengan baik. misalnya, pada kunjungan pertama, jika belum perlu diberikan anti biotik ya tidak diberikan anti biotik. atau untuk mendiagnosa demam misalnya, jika demamnya sdh 3 hari langsung diminta untuk tes laboratorium, baru kemudian didiagnosa apa penyebab demamnya.
salah satu dari sedikit kasus yang dokter puskesmas salah diagnosa adalah ketika anak2 bermasalah dengan kulit disekitar pahanya. kasar, putih2, dan menyebar. tapi tak gatal. dokter puskesmas memastikan bahwa itu adalah jamur. dan dilihat dari indikasinya, memang pas jika disebut jamur. karena wujudnya hampir sama mirip dengan panu. sampai salepnya habis tak juga membaik. akhirnya atas rekomendasi teman, saya datang ke dr. Tumpal, Sp. A. di RS Yadika pondok Bambu. dengan sangat meyakinkan, dr. Tumpal mengatakan bahwa itu bukan jamur. melainkan alergi. lalu saya disarankan untuk menjauhkan anak2 dari semua jenis makanan instan. menurut beliau, makanan instan itu "semua jenis makanan buatan pabrik". selain itu saya juga diminta untuk stop sementara semua jenis hasil laut dan produk olahannya. ayam hanya boleh jika ayam kampung. telur juga harus telur kampung. ikan air tawar hanya boleh ikan yang organik tak makan pelet. selain itu saya juga dibekali salep dan pelembab.
saya pulang dengan pikiran bahwa beberapa waktu kedepan, anak2 saya akan saya jadikan vegetarian! dan benar saja, belum sebulan, masalah kulit anak2 benar2 teratasi. kulit anak2 mulus kembali.
akan tetapi, pengalaman itu tak lantas membuat saya apriori dengan dokter puskesmas, dan menjadi fanatik dengan dokter spesialis. menurut saya itu hanya faktor kebetulan. karena jauh hari sebelum kejadian itu, saya punya pengalaman kurang menyenangkan dengan dokter spesialis.
ceritanya anak2 bermasalah dengan kulit pantatnya. ruam2 merah, gatal, berpindah2 seperti berjalan. melihat indikasinya, dokter puskesmas curiga itu adalah cacing. lalu saya diminta untuk membeli dan meminumkan satu jenis abat cacing yang kebetulan tak tersedia di apotik puskesmas. saya menurut saja karena memang seumur2 anak2 belum pernah saya minumin obat cacing. tapi sayang, tetap saja tak ada perubahan. bahkan ruamnya semakin leluasa berjalan2.
ditengah kepanikan, saya putuskan untuk konsultasi ke dokter spesialis kulit di RS Harum Kalimalang.
"ah, tidak apa2. hanya infeksi ringan. ini saya kasih salep", kata si dokter spesialis kulit dengan pede-nya.
"kalau tidak sembuh juga dok", saya tetap merasa tak yakin.
"sembuh", kata dokter kembali meyakinkan.
"masalahnya saya mau pulang kampung ni dok", kata saya lagi.
"sudah ga papa. sembuh...sembuh...", wih pede banget dokternya.
akhirnya saya dan suami saya pulang dengan keyakinan bahwa masalah kulit pantat ini pasti terselesaikan. tapi sayang seribu sayang. hingga kami tiba di kampung dan road show keliling silaturrahmi dalam rangka lebaran, masalah tetap belum terselesaikan. tentu saja saya frustasi. apalagi ruam punya kakak sudah berjalan mendekati pinggir anus. dan ruam punya adek berada di daerah pinggir vagina.
dalam kekalutan, ketika kami sekeluarga silaturrahmi ke rumah Pakde Humam yang Mantri Puskesmas, saya mendapatkan diagnosa yang mengejutkan!
"ini cacing. kalau orang desa bilangnya cacing pasir. dia jalan terus kan?", tanya Pakde Humam.
"iya pakde. kata dokter puskesmas di jakarta memang indikasinya mengarah ke cacing. trus sudah diminumin obat cacing, tapi kok ga sembuh", kata saya menjelaskan.
"ya nggak ngaruh. obat cacing yang diminum kan untuk cacing yang di perut", bantah pakde Humam.
"iya juga ya?", kata saya sedikit malu. "trus gimana dong pakde", kata saya lagi.
"gampang. bisa dengan cara medis. disemprot. ada alat dan obatnya. tapi mahal. kalau mau cara yang murah bisa di kompres dengan es batu", terang pakde.
masuk akal juga, apalagi cacing itu didalam kulit tapi diluar daging.
"kompres esnya sehari berapa kali pakde?", tanya saya.
"2 kali boleh. 5 - 10 menit saja. ga sampai 10 hari cacingnya pasti sudah mati", pakde mantri meyakinkan.
hari itu juga saya kompres ruamnya dengan es batu. esoknya ketika pulang kerumah mbah di sukadana, di kompres lagi. dan.... subhanallah......baru 2 kali kompres, cacingnya sudah layu, kemudian mati.
ternyata, dokter spesialis tak selalu lebih hebat dari mantri puskesmas kan?