
awalnya begini;
"mami, kenapa perempuan itu tidak pemberani?", pertanyaan yang membuat saya tersentak kaget.
"lho, perempuan juga pemberani kok nak", jawab saya.
"tidak. perempuan itu tidak pemberani. yang pemberani itu laki2", jawab adek berusaha bertahan.
"adek lihat di TV ya?", tanya saya curiga.
"iya. kan kalo di TV itu kan kalo ada orang jahat itu perempuan tidak pemberani", adek menjelaskan.
"yang pemberani itu laki2", lanjut adek.
lalu saya mencoba menjelaskan sambil tentu saja menahan senyum kecut.
"itu cuma di TV sayang. perempuan itu juga harus pemberani. harus hebat. biar kalau ada orang jahat bisa dilawan. kakak sama adek juga harus begitu. harus jadi perempuan pemberani dan hebat. nanti kalau kakak adek sudah SD, kakak sama adek harus ikut Tapak Suci", kata saya mencoba menjelaskan.
"Tapak Suci itu apa mi?, tanya kakak.
"Tapak Suci itu olah raga bela diri. begini ni, hyat..hyat...", kata saya sambil memperagakan gerakan2 meninju dan menendang. anak2 tertawa.
"jadi kalau ada orang jahat kakak sama adek bisa lawan!", kata saya lagi.
__________________________
bagi sebagian orang mungkin itu cuma obrolan ringan. tapi bagi saya itu adalah hal yang sungguh mengejutkan. ternyata saya telah gagal mensosialisasikan pemahaman gender pada anak2 saya. mereka bahkan sudah mengidentifikasi perbedaan jenis mainan antara laki2 dan perempuan, perbedaan jenis tontonan TV, perbedaan jenis warna, perbedaan jenis pekerjaan.
diatas segalanya, mensosialisasikan kesadaran gender ditengah2 kehidupan keluarga dan lingkungan yang masih sangat patriarkhi jelas saja sangat sulit. apalagi terhadap anak2, yang pemahaman dan prilakunya banyak terbentuk oleh apa yang dilihatnya.
tetap semangat dan berjuang tak kenal putus asa. karena nyatanya hanya dengan obrolan ringan diatas, adek sudah bisa mengidentifikasi dirinya menjadi "Perempuan Pemberani". dan kakak mengidentifikasi dirinya sebagai "Perempuan Hebat tapi Tidak Pemberani" hehehehe........
"aku ini perempuan pemberani", kata adek.
"aku perempuan hebat tapi tidak pemberani", kata kakak.
"mami, kenapa perempuan itu tidak pemberani?", pertanyaan yang membuat saya tersentak kaget.
"lho, perempuan juga pemberani kok nak", jawab saya.
"tidak. perempuan itu tidak pemberani. yang pemberani itu laki2", jawab adek berusaha bertahan.
"adek lihat di TV ya?", tanya saya curiga.
"iya. kan kalo di TV itu kan kalo ada orang jahat itu perempuan tidak pemberani", adek menjelaskan.
"yang pemberani itu laki2", lanjut adek.
lalu saya mencoba menjelaskan sambil tentu saja menahan senyum kecut.
"itu cuma di TV sayang. perempuan itu juga harus pemberani. harus hebat. biar kalau ada orang jahat bisa dilawan. kakak sama adek juga harus begitu. harus jadi perempuan pemberani dan hebat. nanti kalau kakak adek sudah SD, kakak sama adek harus ikut Tapak Suci", kata saya mencoba menjelaskan.
"Tapak Suci itu apa mi?, tanya kakak.
"Tapak Suci itu olah raga bela diri. begini ni, hyat..hyat...", kata saya sambil memperagakan gerakan2 meninju dan menendang. anak2 tertawa.
"jadi kalau ada orang jahat kakak sama adek bisa lawan!", kata saya lagi.
__________________________
bagi sebagian orang mungkin itu cuma obrolan ringan. tapi bagi saya itu adalah hal yang sungguh mengejutkan. ternyata saya telah gagal mensosialisasikan pemahaman gender pada anak2 saya. mereka bahkan sudah mengidentifikasi perbedaan jenis mainan antara laki2 dan perempuan, perbedaan jenis tontonan TV, perbedaan jenis warna, perbedaan jenis pekerjaan.
diatas segalanya, mensosialisasikan kesadaran gender ditengah2 kehidupan keluarga dan lingkungan yang masih sangat patriarkhi jelas saja sangat sulit. apalagi terhadap anak2, yang pemahaman dan prilakunya banyak terbentuk oleh apa yang dilihatnya.
tetap semangat dan berjuang tak kenal putus asa. karena nyatanya hanya dengan obrolan ringan diatas, adek sudah bisa mengidentifikasi dirinya menjadi "Perempuan Pemberani". dan kakak mengidentifikasi dirinya sebagai "Perempuan Hebat tapi Tidak Pemberani" hehehehe........
"aku ini perempuan pemberani", kata adek.
"aku perempuan hebat tapi tidak pemberani", kata kakak.