keputusan saya untuk pindah ke lampung dg status suami masih bekerja di jakarta memunculkan tanya bagi banyak orang. keputusan saya memang tidak populer. bahkan kalau boleh jujur, saya sendiri merasa berat menjalaninya. sangat sangat sangat berat.
dulu, awal saya tinggal di jakarta adalah karena saya merasa tidak mampu manjalani kehidupan berkeluarga jauh dari suami yang bekerja di jakarta. maka, boyonganlah saya ke jakarta. lalu kenapa sekarang justru kembali lagi ke lampung padahal suami masih bekerja di jakarta?
hidup ini selalu dihadapkan pada pilihan2. kadangkala saya berhadapan dengan 2 pilihan yang sama2 gampang. namun kadangkala pada dua hal yang sama2 sulit. dan kali ini, saya dihadapkan pada pilihan sulit.
tetap tinggal di jakarta dengan status "kontraktor" alias tinggal di rumah kontrakan, tentu saja bukan pilihan bagus untuk diambil. apalagi jika harus berpindah2 dengan jumlah perabotan yang lumayan banyak.
@pertama, proses pindahan meninggalkan trauma mendalam bagi saya. pusing dan capek luar biasa. belum lagi perasaan bersalah telah mengabaikan anak2 selama proses pindahan.
@kedua, soal biaya juga menjadi hal yang sangat patut dipertimbangkan. mencari rumah yang 'layak huni' dengan biaya murah, merupakan hal yang hampir mustahil.
@ketiga, kalaupun ada saran dari teman2 untuk mengambil rumah, KPR misalnya, maka tentu saja lokasinya jauh di Bekasi, depok atau bogor. tentu saja saya tak berani ambil resiko hidup jauh dari saudara dan kerabat. naif? biarlah.
@keempat, psikologis anak2 menjadi hal paling penting diantara hal2 lainnya. saya tidak ingin anak2 tumbuh di lingkungan yang berpindah2. jaminan mendapatkan teman dan lingkungan yang baik jelas tidak ada. benar bahwa hampir 4 tahun anak2 pernah tinggal dilingkungan yang cukup baik di kalibata. tapi baik dalam konteks berpikir yang seperti apa? apakah akan menjadi baik ketika anak2 saya berteman dengan anak2 seusianya yang "semuanya" mempunya mobil sementara anak2 saya tidak? anak2 mungkin saja belum mengerti benar, tapi miris bagi saya ketika anak2 begitu terobsesi untuk membeli mobil dari uang receh yang tiap hari dimasukkannya ke celengan.
saya ingin anak2 saya tumbuh dilingkungan yang sesuai dengan kehidupan mereka yang sesungguhnya. saya ingin anak2 tumbuh dan berkembang di "istana kecil" mereka sendiri. bukan di "rumah orang" yang berpindah2 dan berganti2. meski resikonya, saya harus jauh dari suami saya, sementara anak2 jauh dari papinya.
bismillah....setiap pilihan pasti ada resiko yang menyertainya. asal niatnya baik dan menjalaninya dengan ikhlas, insyaallah langkah saya kedepan diringankan oleh Allah Swt. amiin.....